oleh

Asta Cita Prabowo Diapresiasi Aktivis Sumsel, Hilirisasi Energi Berkelanjutan Disebut Jadi Kunci Lompatan Ekonomi

Beritaterkini, Palembang – Kekayaan sumber daya alam tidak cukup hanya menjadi komoditas yang diperdagangkan. Pengolahan di dalam negeri menjadi salah satu langkah penting agar potensi tersebut mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat industri, dan membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat. Gagasan inilah yang menjadi perhatian aktivis dan kalangan pemuda Sumatera Selatan dalam membahas arah pembangunan energi nasional.

Melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD), Generasi Ampera mengajak mahasiswa, masyarakat, dan insan media membahas peluang hilirisasi batubara serta tantangan transisi energi. Diskusi yang berlangsung di sebuah kafe di Kota Palembang, Sabtu (24/10/2026), tersebut mengangkat tema “Potensi SDA: Hilirisasi Batubara dan Transisi Energi”.

Forum ini juga menjadi ruang untuk membicarakan keterkaitan pengelolaan sumber daya alam dengan agenda pembangunan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui Asta Cita.

Founder Generasi Ampera, M. Anwarul Fitro, mengatakan pemuda harus memiliki kepedulian terhadap arah pembangunan nasional, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan kekayaan alam dan ketahanan energi.

Menurut Fitro, keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah. Partisipasi masyarakat, terutama generasi muda, juga diperlukan untuk memberikan gagasan dan mengawal pelaksanaan program strategis.

“Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan. Mereka harus mengambil peran aktif dengan memahami kebijakan pemerintah, memberikan gagasan konstruktif, serta ikut mengawal pelaksanaan program strategis nasional,” ujar Fitro.

Ia menjelaskan, Generasi Ampera ingin menghadirkan ruang diskusi yang dapat mempertemukan pemikiran pemuda dengan pandangan akademisi dan berbagai pemangku kepentingan. Dengan begitu, pembahasan mengenai potensi sumber daya alam tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi dapat berkembang menjadi gagasan yang relevan bagi pembangunan daerah.

Hilirisasi Dinilai Penting untuk Memperkuat Ekonomi

Ketua DPD KNPI Sumatera Selatan, Rudianto Widodo, yang hadir sebagai narasumber, menyoroti pentingnya mengubah pola pemanfaatan sumber daya alam agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

Ia menjelaskan, sektor energi memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Ketersediaan energi memengaruhi kebutuhan rumah tangga, kegiatan produksi industri, biaya operasional usaha, hingga peluang penciptaan lapangan kerja.

Foto Beberapa Narasumber dalam FGD Dua Tahun Asta Cita Prabowo yang diselenggarakan Generasi Ampera di Kota Palembang, Sabtu (24/10/2026).

Menurut Rudianto, hilirisasi menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam melalui pengolahan di dalam negeri. Dengan cara tersebut, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan industri yang lebih kuat dan tidak hanya bergantung pada penjualan komoditas mentah.

“Dengan demikian, pengembangan industri diharapkan dapat menciptakan peluang kerja, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, serta memperkuat perekonomian nasional,” kata Rudianto.

Ia menambahkan, pengembangan hilirisasi dan penguatan kemandirian energi sejalan dengan arah kebijakan Asta Cita. Namun, implementasinya membutuhkan dukungan berbagai elemen, termasuk organisasi kepemudaan.

Rudianto mendorong pemuda untuk mengambil bagian melalui peningkatan kapasitas, pengembangan inovasi, serta pengawasan kebijakan secara bertanggung jawab. Kolaborasi antara kampus, komunitas, pemerintah, dan dunia usaha juga dinilai penting untuk memperkuat pengembangan sektor energi.

Menurutnya, kontribusi pemuda dapat dimulai dari kegiatan sederhana, seperti edukasi energi, gerakan efisiensi penggunaan listrik, diskusi kebijakan publik, hingga pengembangan gagasan inovatif yang sesuai dengan kebutuhan daerah.

Potensi Batubara Harus Diimbangi Kesiapan Teknologi

Dari perspektif akademis, dosen Teknik Pertambangan Batubara sekaligus peneliti ekonomi dan kebijakan energi, Fadhil Mahdyrianto, menjelaskan bahwa potensi batubara Indonesia dapat mendukung ketahanan energi dan pengembangan industri nasional.

Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan sumber daya alam membutuhkan strategi yang tepat agar menghasilkan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.

Menurut Fadhil, hilirisasi tidak cukup hanya meningkatkan aktivitas pengolahan. Proses tersebut harus mampu menghasilkan produk bernilai tambah, memperkuat daya saing industri, dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

“Hilirisasi harus mampu menciptakan nilai tambah yang nyata, memperkuat daya saing industri, serta memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat,” ungkapnya.

Fadhil juga menyoroti sejumlah tantangan dalam pengembangan industri batubara. Kesiapan teknologi, kebutuhan investasi, efisiensi operasional, dan perubahan menuju sistem energi rendah karbon merupakan aspek yang perlu diperhitungkan.

Ia menilai transisi energi harus dilaksanakan secara realistis, terukur, dan berkeadilan. Perubahan sistem energi tidak dapat dilakukan hanya dengan mengganti sumber energi, tetapi juga membutuhkan peningkatan efisiensi pertambangan, penguasaan teknologi, serta upaya pengurangan emisi.

Sumsel Perlu Menyiapkan SDM Menghadapi Perubahan Industri

Bagi Sumatera Selatan, pembahasan hilirisasi dan transisi energi memiliki relevansi tersendiri. Aktivitas pertambangan batubara di wilayah ini membuat kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi perkembangan industri energi.

Fadhil menilai peningkatan keterampilan tenaga kerja harus berjalan seiring dengan penguatan hubungan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

“Dalam konteks Sumatera Selatan, wilayah yang memiliki aktivitas pertambangan batubara perlu mempersiapkan sumber daya manusia, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, serta memperkuat keterkaitan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri,” jelasnya.

Menurut dia, masyarakat daerah penghasil sumber daya alam perlu memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam perkembangan industri. Dengan demikian, manfaat hilirisasi tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri juga menjadi bagian penting dalam menyiapkan tenaga kerja yang mampu mengikuti perkembangan teknologi pengolahan sumber daya alam.

Melalui FGD tersebut, Generasi Ampera berharap pembahasan mengenai hilirisasi batubara dan transisi energi dapat mendorong pemahaman yang lebih luas di kalangan pemuda.

Apresiasi terhadap arah kebijakan Asta Cita Prabowo-Gibran diharapkan berjalan seiring dengan partisipasi aktif masyarakat dalam mengawal pembangunan. Hilirisasi energi perlu diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam, tetapi juga memperkuat industri nasional, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, dan memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Generasi Ampera berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang dialog yang produktif antara pemuda, akademisi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan. Melalui kolaborasi tersebut, potensi sumber daya alam Sumatera Selatan diharapkan dapat dikembangkan secara lebih optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. (*Dede)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *